Yogyakarta – Keberlanjutan atau keberlanjutan Sekarang adalah permintaan baru di industri kerajinan tangan. Konsep ini tidak lagi sekedar berbicara tentang produk ramah lingkungan, namun telah berkembang menjadi strategi bisnis yang menentukan daya saing UMKM, khususnya dalam menembus pasar ekspor. Pesan tersebut menjadi tema umum pada sesi INACRAFT Talks bertajuk Kolaborasi Bank Mandiri x ASEPHI yang digelar dalam rangkaian acara Yogyakarta INACRAFT Festival 2026 yang digelar pada Rabu, 15 Juli di Yogyakarta Expo Center (JEC).
Presentasi diskusi Tim Komunikasi Korporat Mandiri Citra F.Ananda Bank, Kepala Produk dan Portofolio Berkelanjutan ESG Group Bank Mandiri Tomas Setya Wahyu, Wakil Ketua II ASEPHI Baby Jurmawati, Bendahara Umum ASEPHI Syamsul Huda. Keempat pembicara sepakat bahwa masa depan industri kerajinan bergantung pada kemampuan pelaku korporasi dalam mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, budaya, dan tata kelola ke dalam seluruh proses bisnis.
Citra F. Ananda mengatakan perubahan perilaku konsumen menjadi faktor utama pendorong pergeseran tersebut. Konsumen saat ini tidak lagi membeli produk hanya berdasarkan fungsi atau desain, katanya, tetapi mereka juga ingin mengetahui bagaimana suatu produk dibuat, dari mana bahan bakunya berasal, serta dampak lingkungan dan sosialnya.
Dulu konsumen hanya bertanya bagaimana produknya, sekarang pertanyaannya berubah. Mereka ingin tahu apakah produknya berkelanjutan, bahannya dari mana, bagaimana proses produksinya, kata Citra.
Ia menjelaskan, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan lingkungan hidup, masyarakat dan pemerintahan (ESG) datang dari segala arah sekarang. badan pengatur Dengan diperkenalkannya berbagai kebijakan untuk mendorong praktik bisnis berkelanjutan, investor mulai menggunakan ESG sebagai indikator investasi, dan konsumen menjadi semakin pemilih dalam menentukan pilihan.
Berdasarkan riset Mandiri Institute, sekitar 70% masyarakat Indonesia mempertimbangkan aspek keberlanjutan saat membeli produk. Kondisi ini dinilai memberikan peluang luar biasa bagi UMKM yang dapat menunjukkan praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Tomas Setya Wahyu menambahkan Bank Mandiri mewujudkan janji tersebut melalui tiga pilar utama yaitu Perbankan berkelanjutan, operasi berkelanjutanDan Di luar perbankan. Dengan demikian, keberlanjutan tidak hanya tercermin dalam operasional perusahaan, namun juga diwujudkan melalui berbagai produk pembiayaan dan program pemberdayaan masyarakat.
Thomas mengatakan Bank Mandiri telah mengalokasikan pembiayaan untuk industri energi terbarukan, kendaraan listrik, bangunan bersertifikasi ramah lingkungan, dan pembiayaan sosial untuk usaha mikro, kecil, dan menengah. Secara internal, perusahaan juga mulai mengganti kendaraan operasional dengan kendaraan listrik dan membangun gedung yang memenuhi standar efisiensi energi untuk mendukung target penurunan emisi operasional pada tahun 2030.
Selain pembiayaan, Bank Mandiri juga menyediakan fitur Livin’ Planet di aplikasi Livin’ by Mandiri. Melalui fitur ini, pelanggan dapat menghitung jejak karbon dari aktivitas sehari-harinya dan kemudian berkontribusi dalam pengurangan emisi dengan menanam pohon atau membeli sertifikat pengurangan gas rumah kaca.
“Bukan hanya perusahaan yang harus berkontribusi terhadap tujuan tersebut emisi nol bersih“Namun masyarakat juga bisa terlibat dengan langkah-langkah sederhana dan terukur,” kata Thomas.
Wakil Ketua II ASEPHI Baby Jurmawati mengatakan, konsep keberlanjutan pada industri kerajinan memiliki dimensi yang lebih luas dari sekedar penggunaan material ramah lingkungan. Ia meyakini produk kerajinan tangan harus fokus pada keseluruhan rantai nilai, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, kesejahteraan pengrajin, hingga perlindungan budaya yang menjadi identitas produk.
Ia meyakini prinsip-prinsip tersebut sebenarnya sudah lama diterapkan oleh para pelaku industri kerajinan Indonesia, meski tidak selalu menggunakan istilah-istilah tersebut keberlanjutan.
“Kalau bicara kerajinan tangan, kita juga bicara tentang budaya, dampak sosial bagi pengrajinnya, bagaimana sampah dikelola, dan bagaimana produknya tetap memiliki nilai budaya yang kuat,” kata Babi.
Baby mengatakan tantangan selanjutnya adalah menjaga produk tradisional tetap relevan dengan selera pasar global. Hal ini dapat dicapai melalui inovasi desain tanpa menghilangkan ciri khas budaya Indonesia. Ia mencontohkan perkembangan pola batik yang kini semakin disesuaikan dengan kebutuhan pasar internasional namun tetap mempertahankan ciri khas lokal.
Sementara itu, Bendahara Umum ASEPHI Syamsul Huda menegaskan keberlanjutan harus dilihat sebagai peluang bisnis dan bukan menjadi beban tambahan bagi pelaku UMKM. Ia mengatakan berbagai peraturan baru, termasuk kewajiban sertifikasi halal pada berbagai produk, sebenarnya bisa memberikan dorongan bagi industri kerajinan untuk memperbaiki proses produksi dan meningkatkan kualitas produk.
Syamsul menjelaskan penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, penggunaan material alami, dan pengurangan bahan kimia merupakan bagian dari upaya menjadikan produk Indonesia lebih berdaya saing. Ia mengatakan pelaku korporasi perlu mulai beradaptasi dengan standar internasional untuk mampu memenuhi kebutuhan pasar global yang semakin fokus pada keberlanjutan.
Ia pun mencontohkan inovasi yang dihasilkan dari pendekatan tersebut, seperti pemanfaatan limbah kertas semen untuk kerajinan bernilai tinggi. Syamsul mengatakan, pemanfaatan material lama secara kreatif tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga memungkinkan dihasilkannya produk yang diminati pasar internasional.
Melalui kolaborasi antara industri perbankan dan asosiasi industri, INACRAFT Talks menekankan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekedar tren global, namun menjadi kebutuhan mendesak bagi UMKM Indonesia. Dukungan finansial, peningkatan kemampuan pelaku usaha, inovasi produk, dan perlindungan budaya dipandang sebagai landasan bagi pengembangan kerajinan etnik yang berkelanjutan dan peningkatan daya saingnya di pasar dunia.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
