Yogyakarta – Panitia Pengurus Daerah (BPD) ASEPHI Yogyakarta mengadakan acara sosialisasi status pelaksanaan SAYANACRAFT akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di Gedung DPD Yogyakarta pada hari Rabu, 17 Juni 2026. Acara yang dihadiri oleh peserta pameran dan anggota ASEPHI ini membahas berbagai aspek teknis penyelenggaraan, mulai dari pengorganisasian peserta, penerapan kode etik pameran, hingga efektivitas penggunaan transaksi digital dalam mendukung penyelenggaraan pameran kerajinan terbesar di Indonesia.
Ketua BPD ASEPHI DIY Emirita LN Pratiwi mengatakan salah satu fokus utama acara tahun ini adalah meningkatkan kedisiplinan peserta dalam menaati aturan pameran. Dikatakannya, dengan bertambahnya jumlah peserta dan pengunjung, maka regulasi regulasi menjadi semakin penting untuk menjaga kualitas dan citra INACRAFT.
Dijelaskannya, dari berbagai penilaian terhadap event-event yang lalu, masih terdapat penempatan produk non-regional, penggunaan area di luar batas booth, dan praktik promosi yang dinilai mengganggu kenyamanan peserta lainnya. Untuk itu, ASEPHI telah memperkuat peran Tim Etik yang bertanggung jawab mengawasi jalannya acara.
Pratiwi mengatakan, setiap pemain harus menjual produk sesuai kategori dan divisi yang ditentukan panitia. Misalnya pada area wastra, peserta hanya diperbolehkan menampilkan produk tekstil tradisional seperti batik, tenun, lurik dan turunannya. Tata letak booth juga harus mengikuti desain dan dimensi yang telah ditetapkan agar tidak mengganggu sirkulasi di sekitar pengunjung atau peserta.
Selain aspek keorganisasian dalam pameran, acara networking juga membahas perkembangan sistem transaksi digital yang terus dikembangkan ASEPHI bersama mitra perbankan. Sekretaris Jenderal ASEPHI Aziz Bakhtiar menjelaskan penggunaan sistem pembayaran digital tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga menjadi alat penting untuk memetakan perilaku pengunjung dan tren belanja selama pameran.
Aziz mengatakan, data transaksi digital selama INACRAFT akan memberikan gambaran lebih akurat mengenai pola pembelian pengunjung, kategori produk yang diminati, dan potensi pasar yang berkembang. Informasi ini menjadi bahan evaluasi penting bagi panitia dan peserta untuk merumuskan strategi pemasaran dan pengembangan produk.
Ia menambahkan, ASEPHI tidak lagi sekadar menggelar pameran, namun berupaya membangun sistem pengelolaan data agar dapat memberikan manfaat bagi para pelaku usaha kerajinan. Melalui pendekatan berbasis data, ASEPHI berharap peserta mendapatkan informasi yang lebih komprehensif mengenai tren pasar dan preferensi konsumen.

Sementara itu, Ketua ASEPHI Muchsin Ridjan menegaskan INACRAFT harus terus berkembang menjadi etalase besar produk kerajinan Indonesia dan ruang promosi profesional bagi para pelaku usaha kreatif. Dikatakannya, kualitas pelaksanaan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan peserta dan pengunjung yang telah memasukkan INACRAFT dalam agenda bisnis tahunannya.
Bersamaan dengan itu, BPD ASEPHI DIY juga telah mengusulkan serangkaian agenda dukungan menjelang penyelenggaraan INACRAFT pada Oktober 2026. Salah satunya adalah agar anggota ASEPHI Yogyakarta dapat mengikuti rangkaian acara promosi dan pra konferensi yang akan dilaksanakan di Yogyakarta pada Juli 2026.
Acara ini diharapkan dapat meningkatkan eksposur produk anggota sekaligus memperkuat promosi INACRAFT kepada masyarakat luas. Salah satu agenda yang disiapkan adalah peragaan busana dan pameran produk kreatif meliputi berbagai subbidang kerajinan, fesyen, dan aksesoris hasil karya anggota ASEPHI.
Melalui sosialisasi ini, ASEPHI berharap seluruh peserta memiliki pemahaman yang seragam mengenai aturan dan standar penyelenggaraan pameran. Dengan begitu, INACRAFT pada Oktober 2026 tidak hanya menjadi wadah transaksi bisnis, namun juga mampu menjaga reputasi sebagai pameran kerajinan nasional yang profesional, tertib, dan berdaya saing internasional.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
