Asthabrata, filosofi kepemimpinan Jawa yang diterjemahkan ke dalam karya batik di INACRAFT Yogyakarta

Asthabrata, filosofi kepemimpinan Jawa yang diterjemahkan ke dalam karya batik di INACRAFT Yogyakarta

Yogyakarta — Naskah kuno hampir dua abad lalu di Candi Pakualaman kini muncul dalam berbagai bentuk. Bukan lagi sekedar koleksi Perpustakaan Kerajaan, menjelma menjadi motif batik yang mengandung ajaran Jawa tentang kepemimpinan. Karya ini diperkenalkan dalam serial oleh Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam atau Gusti Putri Festival INACRAFT Yogyakarta 2026 Jumat, 17 Juli 2026 di Yogyakarta Expo Center (JEC).

Diluncurkan bertajuk ” astabrata Menjadi salah satu agenda penting pameran kerajinan terbesar di Indonesia. Melalui serial ini, Gusti Putri memberikan interpretasi visual terhadap ajaran kepemimpinan yang bersumber dari naskah kuno yang dikumpulkan di Pura Pakualaman, sekaligus menunjukkan bahwa warisan budaya dapat diolah menjadi karya kreatif yang relevan dengan momen masa kini.

Kecintaan Gusti Putri terhadap batik dimulai sejak kecil. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang akrab dengan tradisi batik Batang di Jawa Tengah. Saat menjadi anggota keluarga Pura Pakualaman, ia menemukan Bangsal Batikan yang sudah lama tidak digunakan. Atas izin keluarga, kelurahan tersebut dipugar sebagai ruang kreatif dan pusat pelestarian batik Pakualaman.

Gusti Putri (kanan)

Dalam proses pengembangannya, Gusti Putri tidak hanya menghidupkan kembali tradisi membatik, tetapi juga mengeksplorasi koleksi naskah kuno yang tersimpan di Perpustakaan Widya Pustaka Pura Pakualaman. Sejak saat itulah lahirlah gagasan untuk mengangkat ajaran astabratasebuah konsep kepemimpinan Jawa yang mengajarkan delapan ciri utama seorang pemimpin.

Gusti Putri mengatakan, nilai-nilai yang tertulis dalam naskah berusia 200 tahun itu masih relevan hingga saat ini. “Nilai-nilai Astabrata masih sangat relevan untuk diterapkan oleh para pemimpin saat ini agar dapat memimpin dengan bijak dan membawa kesejahteraan,” ujarnya.

Kedelapan ajaran tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pola batik yang masing-masing mewakili karakter Batara Lokapala. Batara Indra melambangkan kebijaksanaan, Batara Yama melambangkan keadilan, Batara Surya melambangkan pemerintahan yang baik, Batara Candra melambangkan kasih sayang, Batara Bayu melambangkan keteguhan hati, Batara Wisnu melambangkan kerohanian, Batara Brahma melambangkan keberanian mempertahankan wilayah, dan Batara Baruna mengandung makna membina kepemimpinan.

Batik Asda Prata Jungk

Selain menampilkan polanya secara individu, Gusti Putri juga memperkenalkannya asda brata jan kepuselembar kain yang memadukan semua karakter tersebut dalam satu komposisi. Coraknya memperkaya ragam hias klasik Yogyakarta seperti parang dan kaon, serta dilengkapi nama-nama tokoh Batala sehingga memudahkan masyarakat memahami makna filosofisnya.

Gusti Putri mengatakan, proses penciptaan serial ini tidak hanya memerlukan ketelitian artistik, namun juga perlu adanya penghormatan terhadap warisan budaya. Setiap mengunjungi naskah kuno, ia dan tim perpustakaan harus mengikuti prosedur konservasi yang ketat karena kerapuhan naskah tersebut.

“Karena saya membuat batik dari naskah kuno, saya selalu berdoa kepada Tuhan dan meminta izin kepada nenek moyang Pakulaman sebelum saya mulai membuatnya,” kata Gusti Putri.

Dijelaskannya, pola tersebut dikembangkan melalui kerja sama tim perpustakaan dengan produsen batik. Gambar-gambar dalam naskah tersebut sedikit demi sedikit ditransformasikan menjadi desain batik tanpa kehilangan makna aslinya.

Bagi Gusti Putri, perpustakaan keraton bukan hanya gudang sejarah, tapi juga sumber inspirasi yang mampu mengkatalisasi inovasi-inovasi baru di industri kreatif. Melalui batik Asthabrata, ia berharap nilai-nilai kepemimpinan Jawa tidak hanya tersimpan dalam teks-teks kuno, tetapi juga dipakai, dipelajari dan dipahami oleh masyarakat luas, termasuk generasi muda.

Diluncurkan pada INACRAFT Festival Yogyakarta 2026, koleksi Asthabrata menjadi contoh bagaimana warisan intelektual kerajaan dapat dihidupkan kembali melalui medium fashion. Di tangan Gusti Putri, batik hadir tidak hanya sebagai karya estetis tetapi juga sebagai media pendidikan yang menghubungkan sejarah, filosofi, dan identitas budaya Indonesia dengan masyarakat masa kini.

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *